Penanggulangan Bencana

Kata bencana (disaster) secara etimologis berasal dari dis yang berarti sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan astro yang berarti bintang. Disastro berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi (an event precipitated by stars). Tidak mengherankan jika kebanyakan konsep peringatan dini didasarkan pada astrologi atau ilmu bintang. Terminologi tersebut adalah cerminan bahwa bencana sudah menjadi bagian dari sejarah umat manusia. Praktek mitigasi kekeringan di Mesir sudah berusia lebih dari 4.000 tahun. Konsep tentang sistem peringatan dini untuk kelaparan (famine) dan kesiapsiagaan dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 SM. Respon kemanusiaan dalam krisis kedaruratan juga sudah berusia lama. Walaupun catatan sejarah sangat sedikit, namun peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755 mencatat adanya respon bantuan dari negara meskipun seadanya.
Pembahasan tentang bencana biasanya diawali dengan—disatu pihak—adanya suatu fenomena yang mempunyai potensi ancaman terhadap hidup dan kehidupan, kesejahteraan, dan aset-aset manusia (Smith, 1992; Carter, 1991). Beberapa ancaman mempunyai peluang lebih tinggi dari yang lainnya untuk benar-benar menjadi suatu peristiwa. Di pihak lain, masyarakat mempunyai kerentanan, yaitu keadaan dan ciri-ciri tertentu yang mempertinggi kemungkinan mereka untuk tercederai oleh ancaman-ancaman pada saat benar-benar menjadi suatu peristiwa yang merusak. Pertemuan dari ancaman dan kerentanan inilah yang disebut dengan peristiwa bencana. Sesungguhnya alam semesta dan isinya ini bersifat netral. Hanya pada saat tertentu ketika ancaman itu menjadi suatu peristiwa yang berdampak merugikan manusia, maka peristiwa itu disebut sebagai suatu bencana (Cuny, 1983).
Lyons (1999) mengklasifikasikan bencana menjadi dua jenis, yaitu bencana alam (natural disaster) yang disebabkan kejadian alam seperti gempa bumi dan gunung meletus dan bencana buatan manusia (man-made disaster) yaitu hasil dari tindakan secara langsung atau tidak langsung manusia seperti perang, konflik antar penduduk, teroris, dan kegagalan teknologi. Rice (1999) menambahkan satu kategori bencana lagi yaitu bencana teknologi. Carter (1991) membagi penyebab bencana menjadi dua. Ancaman pertama bersifat tradisional seperti gejala-gejala alami termasuk gempabumi, angin topan, letusan gunungapi, tsunami, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Sementara itu timbul pula ancaman baru, seperti: kekerasan sosial, serangan teror, kerusuhan sosial, dan sebagainya. Dalam kategori ini juga didapati ancaman dari penyimpanan, transportasi, pemrosesan dan pembuangan limbah bahan-bahan berbahaya (hazardous materials), ancaman nuklir baik dalam konteks penggunaan untuk tujuan damai maupun peperangan.
Pemahaman tentang kegiatan penanggulangan bencana secara lebih mudah disederhanakan dalam suatu siklus kegiatan. Siklus penanggulangan bencana digambarkan dalam berbagai cara dan juga peristilahan yang berlainan. Namun yang terpenting adalah bahwa format yang dimaksud menunjukkan bahwa penanggulangan bencana adalah suatu kontinum dari kegiatan yang saling berkaitan, dan bukannya suatu urutan kegiatan yang mempunyai awal dan akhir yang tegas.

Gambar 1. Siklus Penanggulangan Bencana

Pencegahan ialah langkah-langkah yang dilakukan untuk menghilangkan sama sekali atau mengurangi secara drastis akibat dari ancaman melalui pengendalian dan pengubahsuaian fisik dan lingkungan. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk menekan penyebab ancaman dengan cara mengurangi tekanan, mengatur dan menyebarkan energi atau material ke wilayah yang lebih luas atau melalui waktu yang lebih panjang (Smith, 1992). Cuny (1983) menyatakan bahwa pencegahan bencana pada masa lalu cenderung didorong oleh kepercayaan diri yang berlebihan pada ilmu dan teknologi pada tahun enampuluhan; dan oleh karenanya cenderung menuntut ketersediaan modal dan teknologi. Pendekatan ini semakin berkurang peminatnya dan kalaupun masih dilakukan, maka kegiatan pencegahan ini diserap pada kegiatan pembangunan pada arus utama.
Mitigasi ialah tindakan-tindakan yang memfokuskan perhatian pada pengurangan dampak dari ancaman, sehingga dengan demikian mengurangi kemungkinan dampak negatif kejadian bencana terhadap kehidupan dengan cara-cara alternatif yang lebih dapat diterima secara ekologi (Carter, 1991). Kegiatan-kegiatan mitigasi termasuk tindakan-tindakan non-rekayasa seperti upaya-upaya peraturan dan pengaturan, pemberian sanksi dan penghargaan untuk mendorong perilaku yang lebih tepat, dan upaya-upaya penyuluhan dan penyediaan informasi untuk memungkinkan orang mengambil keputusan yang berkesadaran. Upaya-upaya rekayasa termasuk pananaman modal untuk bangunan struktur tahan ancaman bencana dan/atau perbaikan struktur yang sudah ada supaya lebih tahan ancaman bencana (Smith, 1992).
Kesiapan respon kedaruratan bencana ialah perkiraan tentang kebutuhan yang akan timbul jika terjadi kedaruratan bencana dan pengenalpastian sumber-sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan demikian akan membawa penduduk di daerah rawan bencana ke tataran kesiapan yang relatif lebih baik untuk menghadapi bencana. Berdasar penerimaan bahwa kerusakan akibat peristiwa bencana memang tak terhindarkan, kegiatan kesiapan meletakkan pengaturan penanggulangan kedaruratan sedemikian rupa sehingga lebih efektif. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan penyusunan dan ujicoba rencana penanggulangan kedaruratan, pengorganisasian, pemasangan dan pengujian sistem peringatan dini, pergudangan dan penyiapan barang-barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar, pelatihan dan gladi, penyiapan mekanisme alarm dan prosedur tetap (Flemming, 1957).
Penanggulangan kedaruratan ialah tindakan-tindakan yang dilakukan seketika sebelum dan/atau setelah terjadinya kejadian bencana. Tindakan-tindakan pada fase ini termasuk pengenalpastian lokasi terjadinya bencana, pengkajian cepat terhadap kerusakan dan sumberdaya yang tersedia untuk menentukan dengan cepat kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Bersamaan dengan itu juga dilakukan tindakan pencarian dan penyelamatan korban, pertolongan pertama pada kecelakaan, evakuasi, penyiapan penampungan masal beserta pelayanannya, pembagian bantuan darurat dan pelayanan medik, penggerakan sumberdaya dan pemulihan dengan segera sarana-sarana kunci seperti komunikasi, transportasi, listrik dan air, serta berbagai sarana publik lainnya.
Pemulihan ialah tindakan yang bertujuan untuk membantu masyarakat mendapatkan kembali apa yang hilang dan membangun kembali kehidupan mereka, serta mendapatkan kembali kesempatan mereka. Ini dicapai melalui kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk memulihkan sarana-sarana untuk berfungsi kembali, pembangunan kembali atau perbaikan sarana prasarana, menyiapkan kembali kemampuan sosial ekonomi. Idealnya pada tataran yang sama atau lebih baik ketimbang sebelum terjadi bencana, sambil memperkuat daya tahan mereka untuk menghadapi ancaman bencana yang akan datang.

Regulasi Penanggulangan Bencana

Berdasarkan UU No. 24 Tahun 2007, bencana diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Pustaka
Abbott, P. L. (2004), Natural Disaster, London: McGraw Hill Higher Education
Bryan, E. (2005), Natural Hazard, Cambridge: Cambridge University Press
Carter, W. N. (1991), Disaster Management: A Disaster Manager’s Handbook, Manila: National Library of the Phillipine
Cuny, F. C. (1983), Disasters and Development, New York: Oxford University Press
Smith, K. (1992), Environmental Hazards: Assessing Risk and Reducing Disaster, London: Routledge
UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

Who's online

There are currently 0 users and 27 guests online.

Who's new

  • nurul
  • Nani
  • hendra

Dibangun oleh :

Didukung oleh :