Dampak

Kebakaran hutan dan lahan berdampak sangat luas dan berat atas berbagai gatra kehidupan, yaitu: biofisik, ekonomi, sosial, kesehatan, dan politis.

Dampak Biofisik

Dampak biofisik berkaitan erat dengan pelepasan asap, pelepasan CO2, suhu tinggi, dan perusakan habitat flora dan fauna. Asap adalah suspensi zarah-zarah padat halus dalam gas (udara). Asap dari kayu dan bahan organik lain terdiri atas zarah-zarah halus karbon. Bahan ini menurunkan mutu udara karena mengganggu pernafasan dan penglihatan, bahkan dapat merusak organ pernafasan dan penglihatan. Akibat menghalangi dan memencarkan energi pancar matahari, asap juga menurunkan fotosintesis yang pada gilirannya menurunkan potensi produksi nabati. Butir-butir halus yang kemudian mengendap dan menempel pada permukaan daun dapat mengurangi luas efektif daun untuk melakukan fotosintesis.
Dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan atmosfer adalah berupa kabut asap yang menghalangi daya visibilitas terutama untuk sektor penerbangan dan transportasi darat. Dampak tidak langsungnya adalah berupa emisi CO2, NOx, dan CH4. Gas-gas tersebut akan mengapung-apung di atmosfer sebagai gas rumah kaca yang berdampak pada pemanasan bumi dan mempengaruhi perubahan iklim.
Kebakaran hutan juga berdampak buruk pada ekosistem darat, yaitu akan memusnahkan flora dan fauna serta biodiversitas. Api yang cukup panas dapat mematikan 100% tumbuhan hijau, 75% tumbuhan bawah, dan 80% organisme penutup tanah, baik berupa hewan maupun tumbuhan. Pada daerah bekas kebakaran yang terdapat di Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan angka kematian pada tingkat vegetasi pohon mencapai 33 – 84%, sedangkan pada tingkat vegetasi tiang sebesar 61%.
Dampak lain adalah penurunan kesuburan tanah karena hilangnya lapisan humus dan struktur tanah bagian atas (top soil) yang mengalami perubahan. Kondisi ini menyebabkan terganggunya kehidupan mikroorganisme dan tanaman yang tumbuh di atasnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan produktivitas lahan.

Dampak Ekonomi

Dampak kebakaran hutan secara ekonomis yaitu hilangnya sumber daya alam beserta potensi yang ada didalamnya, baik berupa kayu ataupun non-kayu yang melimpah dan mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Hal ini akan sangat mempengaruhi perekonomian daerah karena hasil hutan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang cukup besar dan dominan.
Belum ada data atau laporan resmi yang menghitung jumlah kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan di NAD setiap tahunnya. Taksiran kerugian biasanya didasarkan pada valuasi kerusakan pada bidang kehutanan, valuasi kerusakan hasil hutan non-kayu, kerugian sektor pertanian, pengeluaran untuk operasi pemadaman, pengeluaran dana kedaruratan untuk mengatasi bencana, masalah kesehatan, kerusakan infrastruktur, peningkatan biaya produksi, kerugian di bidang pariwisata, dan kerugian industri transportasi.

Dampak Sosial

Dampak kebakaran hutan dan lahan secara sosial terutama dirasakan oleh masyarakat di sekitar terjadinya kebakaran. Bencana kebakaran hutan dan lahan dapat memusnahkan hampir semua yang tumbuh di lantai hutan dan lahan pertanian serta menghancurkan permukiman. Akibatnya masyarakat kehilangan harta benda dan sumber mata pencaharian.
Berkurangnya sumber mata pencaharian, kurangnya persediaan air bersih, semakin sempitnya lahan subur, dan tidak meratanya hasil panen dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan lebih jauh dapat menimbulkan konflik antar komunitas atau kelompok masyarakat.

Dampak Kesehatan

Asap yang berlebihan selama kebakaran dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti: gangguan saluran pernafasan, asma, batuk, penyakit kulit, dan iritasi pada mata. Akibat penurunan kualitas air juga dapat menimbulkan penyakit diare dan muntaber, terutama pada anak balita.

Dampak Politis

Hampir setiap tahun, jutaan orang di Asia Tenggara menderita akibat polusi asap yang menyesakkan. Polusi asap lintas-batas negara yang sangat merugikan tersebut sudah menjadi isu politis yang sangat kontroversial.

Daftar Pustaka


Moore, Peter dan N. Haase. 2002. Manajemen Kebakaran Berbasiskan Masyarakat. dalam Burning Issues. 2: 1-3
Notohadinegoro, Tejoyuwono. 1997. Pembakaran dan Kebakaran Lahan. dalam Prosiding Simposium Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Pusat Studi Energi, Pusat Studi Bencana Alam, Pusat Studi Sumberdaya Lahan, dan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UGM. Yogyakarta. 16-17 Desember
Tim PSBA UGM. 2008. Buku Panduan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Kutai Barat.
Waliadi, Suhada, dan Dedi. 2005. Mengelola Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan. Palangkaraya: CARE International Indonesia